Melawan takdir
Angin malam berembus perlahan, menyapu puncak-puncak pohon tua yang menjulang tinggi di Hutan Hening. Di balik dedaunan lebat yang menyembunyikan dunia dari pandangan manusia, keajaiban hidup dalam senyap. Hutan itu bukan sekadar kumpulan pohon dan kabut—ia menyimpan rahasia, dan malam ini, rahasia itu bergetar di udara.
Dari dahan tertinggi pohon Beringin Hitam, Nurni mengawasi langit yang berubah warna. Ia adalah burung hantu tua, matanya bercahaya ungu gelap seperti tinta malam, tubuhnya dibalut bulu kelabu keperakan yang tampak menyala saat tersentuh sinar bulan. Ia bukan burung biasa—Nurni adalah penguasa ilmu hitam, pemegang rahasia terdalam hutan, dan pelindung yang tak pernah tidur.
Seketika, langit retak—garis cahaya ungu membelah awan dan menyisakan bisikan tak terdengar. Itu bukan hal biasa.
"Aku melihatnya juga," kata sebuah suara dari semak. Dari kegelapan melangkah seekor rubah dengan mata tajam seperti bara. Bulu Lisin memantulkan cahaya jingga, dan dari ekornya yang lebat keluar kilauan halus seperti debu bintang. Ia bukan hanya cerdas—ia juga penyihir, pengelana, dan pemecah teka-teki hutan.
Nurni menoleh sedikit. "Ramalan telah terbuka."
"Aku mencium aroma darah sihir. Yang lama. Yang dilupakan." Lisin mendekat, suaranya pelan tapi dalam. "Ini bukan mimpi. Ini panggilan."
Dari kejauhan, terdengar nyanyian lembut—melodi yang hanya muncul saat dunia sedang goyah. Melodi itu mengambang di udara, membelai telinga makhluk-makhluk malam. Tak salah lagi, itu suara Izun.
Sang burung merak mendarat di tengah lingkaran cahaya bulan. Sayapnya membentang lebar dengan bulu-bulu berwarna safir dan zamrud yang bergerak seperti air. Izun adalah pemilik suara ajaib, mampu menenangkan badai, membangunkan bunga yang tidur, bahkan—jika diperlukan—mengusir kegelapan dari hati makhluk tergelap.
"Aku tak sengaja menyanyikannya," kata Izun perlahan. "Melodi itu keluar sendiri… seperti ditarik dari dalam."
"Ramalan telah memilih kita," ucap Nurni. Ia memejamkan mata, dan angin berhenti berembus seketika. "Kita perlu satu lagi."
Dan seakan menjawab panggilan, dari balik pepohonan, Kasful muncul. Burung pipit kecil itu tampak tak menonjol di antara makhluk lain, tapi siapa pun yang mengenalnya tahu—di balik kelembutannya, tersimpan sihir penyembuh yang bahkan sanggup menenangkan hutan yang sedang mengamuk.
"Aku bermimpi tentang bunga yang menangis," katanya lirih. "Itu bukan mimpi biasa. Aku… terpanggil."
Keempatnya kini berdiri dalam lingkaran cahaya bulan. Hutan menghela napas. Sejak malam itu, langit tak pernah sama lagi.
Ramalan lama, yang disegel dalam awan dan dilupakan dalam legenda, telah bangkit.
Dan Hutan Hening—rumah para makhluk fantastis—takkan pernah tenang kembali.
Pagi datang tak seperti biasa. Hutan Hening masih diselimuti kabut meski mentari telah menggeliat dari balik perbukitan. Seolah-olah waktu sendiri enggan bergerak maju. Ada sesuatu yang tertahan… dan perlahan-lahan, segalanya berubah.
Nurni melayang rendah di atas lembah yang biasa menjadi tempat ritual. Dari udara, ia melihatnya—sebuah simbol membara, terbentuk oleh jejak kabut dan retakan tanah. Simbol itu kuno, berasal dari zaman ketika hutan masih berbicara dalam bahasa api dan angin. Ia terdiam, bulu-bulunya berdiri. “Seseorang telah membuka pintu yang tidak boleh dibuka,” bisiknya sendiri.
Sementara itu, jauh di timur hutan, Lisin berdiri di hadapan seekor kucing liar berwarna hitam pekat dengan mata putih tanpa pupil. Ia bukan kucing biasa—makhluk itu adalah penjaga rahasia kuno, dan ia tengah menyampaikan pesan: "Taruhan telah dimulai."
Lisin menggigit bibir. Dalam dunia sihir, taruhan bukan sekadar permainan. Siapa pun yang kalah bisa kehilangan bukan hanya kekuatan… tetapi waktu, atau bahkan wujudnya sendiri. Dan taruhan itu… menjerat Izun.
Di sisi lain hutan, Izun terbang rendah, napasnya terengah, tubuhnya berat oleh beban yang tak terlihat. Malam sebelumnya, saat ia menyanyikan lagu lama yang muncul begitu saja, sesuatu telah menanamkan mantra padanya. Taruhan sihir, jebakan paling licik dari makhluk bayangan—dan Izun telah menjadi pionnya.
“Aku tak ingat siapa yang menantangku,” ucap Izun kepada Kasful yang setia menemaninya. “Tapi aku tahu, setiap hari aku akan kehilangan satu ingatan jika aku gagal menemukan sumber nyanyianku sendiri…”
Kasful menunduk. “Izun, kamu tidak sendiri. Kita akan mencarikan jawabannya. Mungkin Nurni tahu jalannya…”
Namun Nurni pun tengah disibukkan oleh penglihatan barunya—tentang seorang gadis manusia, yang di masa depan menjadi penentu akhir dari hutan: seorang penyihir muda yang akan datang dari peradaban manusia, namun punya darah hewan di dalam jiwanya.
Dan ramalan itu mulai jelas ketika Nurni melihatnya…
Di kaki gunung, di sebuah sekolah sihir tersembunyi yang hanya muncul saat kabut tertentu menyentuh tanah, berdiri seorang wanita dengan jubah panjang warna hijau zamrud. Tangannya memegang tongkat bercahaya, dan sorot matanya tajam menembus jiwa siapa pun. Itulah Nurni—dalam wujud manusianya.
Ia adalah guru sihir terhebat di wilayah timur, dan satu dari sedikit penyihir yang mampu mengajar sihir siluman—ilmu yang menghubungkan manusia dan makhluk gaib.
Namun… tak satu pun muridnya tahu bahwa ia dulunya adalah burung hantu penjaga Hutan Hening.
Dan hari itu, ia merasa… waktu hampir tiba untuk kembali.
Sementara itu, kabar mengejutkan datang ke telinga Kasful dan Izun.
Lisin… telah menikah.
Dengan siapa? Tak seorang pun tahu. Tapi pernikahan itu bukan biasa. Ia seperti pengikat dua dunia—pernikahan yang bisa menguatkan batas atau malah menghancurkannya.
Kasful cemas. “Jika Lisin menyerahkan kekuatannya… dan Izun kehilangan ingatannya… maka kita tinggal menunggu kehancuran.”
Langit mulai bergetar.
Dan sebuah suara tua, dari dalam tanah, berkata:
“Labirin sudah terbuka. Siapa pun yang memasukinya… tidak akan jadi yang sama saat keluar.”
Hutan Hening kini berbeda. Daun-daun tidak hanya berguguran, tetapi menghilang begitu menyentuh tanah. Suara-suara hewan perlahan lenyap. Dan kabut… menjadi lebih pekat, tak hanya menutupi pandangan, tapi juga membungkus pikiran.
Izun terbang rendah, tubuhnya gemetar. Ia mulai lupa warna bulunya sendiri. Nama Kasful nyaris lenyap dari ingatannya—jika bukan karena suara si gagak itu yang terus memanggil, mungkin ia telah melupakan segalanya.
“Aku takut, Kasful…” suara Izun serak. “Aku tak tahu siapa aku lagi. Tapi hatiku… terasa kosong setiap kali aku melihat ke arah barat…”
Kasful menggigit ranting di tanah, lalu mengayunkan sayapnya. “Kita harus ke sekolah sihir. Nurni… dia mungkin satu-satunya yang bisa menyelamatkanmu.”
Di Sekolah Sihir Lembah Terselubung, Nurni sedang berdiri di atas menara observasi. Ia telah membaca riwayat sihir dari langit—huruf-huruf membentuk dalam awan, menunjukkan silsilah kekuatan yang telah melintasi waktu. Dan dari situ, ia tahu:
Lisin telah menyerahkan separuh jiwanya kepada Pengantin dari Utara—makhluk yang hanya muncul tiap seribu tahun untuk menyegel batas antara dunia gaib dan manusia. Pernikahan itu… bukan sekadar penyatuan cinta. Itu adalah pengorbanan.
“Aku tak menyangka kau akan melakukannya, Lis,” gumam Izun sambil menggenggam liontin batu obsidian yang dulu pernah Lisin berikan padanya.
Dahulu, sebelum Lisin jatuh cinta pada kekuatan, sebelum hutan menjadi ladang taruhan, sebelum Izun dilahirkan dari percikan sihir dan cahaya bulan—mereka bertiga adalah sahabat.
Namun waktu telah memisahkan mereka. Dan kini, hanya sisa luka yang dibawa angin.
Ketika Izun dan Kasful sampai di gerbang sekolah, kabut menggila. Awan membentuk wajah-wajah, dan bisikan memenuhi udara.
“Jangan percaya siapa pun… termasuk dia…”
Izun berhenti. “Kasful… aku mendengar suara itu lagi. Suara dari dalam pikiranku…”
Kasful mencengkeram bulunya sendiri. “Kau harus percaya padaku. Itu sihir kabut. Itu sihir… milik Lisin.”
Saat itulah pintu sekolah terbuka dengan sendirinya. Dari balik kabut, muncul Nurni dengan tongkat bercahaya. Sorot matanya tajam namun penuh duka.
“Izun… kau datang di waktu yang nyaris terlambat.”
Izun menunduk. “Aku… hampir lupa namamu.”
Bersambung.......
Komentar
Posting Komentar