“Dan Tuhan Pun Diam Lama”

Ada malam yang terlalu tenang,

hingga suara hatiku sendiri terdengar seperti doa yang tak sampai.

Aku memanggil sesuatu—entah nama, entah makna,

tapi yang menjawab hanya gema dari dalam diriku sendiri.


Aku duduk di antara sisa waktu,

di mana cahaya dan gelap berdebat tentang siapa yang lebih abadi.

Hidup terasa seperti kalimat yang kehilangan titik,

terus berjalan tanpa pernah benar-benar selesai.


Dulu aku kira,

Tuhan selalu bicara lewat kebahagiaan.

Kini aku tahu,

kadang Ia memilih diam agar kita belajar mendengar tangisan kita sendiri.


Ada luka yang tak bisa disembuhkan oleh waktu,

karena ia bukan ingin sembuh—

ia hanya ingin diakui:

bahwa ia pernah ada, dan ia pernah menyelamatkan seseorang dari dirinya sendiri.


Aku menatap langit,

bintang-bintang tampak seperti serpihan doa yang tak sempat diucapkan manusia.

Dan di tengah semua itu,

aku hanya satu makhluk kecil yang masih mencoba mengerti,

kenapa cinta bisa terasa seperti ibadah,

dan kehilangan seperti bentuk lain dari pengampunan.


Malam makin dalam.

Aku menutup mata, bukan untuk tidur—

tapi untuk pulang ke tempat

di mana segala rasa tak lagi butuh nama.


Di sana,

di balik segala air mata yang pernah kutahan,

aku tahu…

Tuhan tidak pergi.

Ia hanya sedang diam lama,

menunggu aku tenang,

agar Ia bisa berbicara lagi.


Komentar

Postingan Populer